Sabtu, 28 September 2024

Istana Pasir

    Seperti biasa langkahku tertatih-tatih, adakalanya aku melangkah namun sebaliknya aku berhenti bahkan mundur lebih jauh. Seperti istana pasir yang susah payah aku bangun namun jaraknya terlalu dekat dengan garis pantai tak luput dari deburan ombak yang menyapu bersih tak tersisa. Aku mencoba untuk membangunnya lagi dan lagi tanpa henti dan percaya semua itu bisa kokoh berdiri, namun sayang ombak yang lebih kencang tak memperdulikan sekuat apa keyakinanku.

    Semua ini memang salahku, aku memilihnya, aku menukarnya dengan harapan yang entah aku semakin ragu gambarannya saja samar di benakku. Kenapa harus ada kondisi seperti ini? seakan aku bertekad dan seakan aku menyerah, dari mana asalnya sehingga terjadi seperti ini? pesan apa yang semesta berikan untukku hingga ku merasa semuanya terasa tidak seperti seharusnya.

    Akan aku maafkan diriku sendiri, akan aku maafkan penyebab masalah itu, akan aku ciptakan lagi harapanku meskipun harus dengan langkah goyah dan  entah kapan akan bisa berubah menjadi langkah pasti bahkan berlari, harapan yang samar sebelum pudar dan hilang tak bersisa, terima kasih sudah sejauh ini wahai diri, aku tau tak ada yang mudah dan memang akan selalu begitu, Tuhan selalu punya cara agar aku belajar, tidak semudah itu bahkan untuk hal yang sederhana, ini bukan mindset yang terbentuk dan menjadikannya sulit. Nyatanya memang butuh proses semenjak aku dihadirkan dan memilih untuk segala yang terjadi pada hidup.

    Akan aku sudahi tipuan ini, menipu diri seolah semuanya baik-baik saja dan berjalan seperti seharusnya, padahal kenyataanya aku terseok-seok terseret arus deras dan berulang kali aku tersangkut untuk bertahan hidup. Terima saja ini semua memang memuakkan dan penuh dengan ketidakadilan. Inilah hidup dengan segala kejutannya. Izinkan aku bangun lagi istanaku meskipun aku tau tidak ada jaminan untuk bisa kokoh berdiri, akan selalu ada ombak yang menyapu bersih bahkan air pasang dan juga badai, sebelum energiku benar benar tak tersisa. Aku tau istanaku mudah runtuh dengan apapun bahkan oleh diriku sendiri yang menghancurkannya bukan hal yang tidak mungkin. 

    Jika aku diberikan kesabaran dan kesabaran itu masih bisa menjadi perisai dari kesedihan aku akan melanjutkannya terus begitu, kebisingan itu bukan lagi gangguan untukku, aku sedang mencari jalan keluarku sendiri tanpa mengganggu. Aku hanya ingin bertahan dengan harapan dan menghadapi segalanya. Mungkin saja istana yang berdiri kokoh itu rasanya sulit dan mudah hancur tapi seringnya aku menbangun di pikiranku istana itu berdiri dan tergambar dengan indah sehingga aku terbiasa dan dapat menceritakan karena aku benar-benar menjalani prosesnya. Tolong berikan kesempatan aku ingin menang dan aku harus memastikannya melawan pikiranku dan menjadikannya seakan nyata hidupku.

Rabu, 17 April 2024

Tiga Puluh

     Mimpiku tinggi setinggi anganku yang membuatku selalu percaya bahwa aku bisa mencapainya, namun semakin aku berusaha rasanya semakin jauh bayangannya pudar jejaknya hilang dan yang tersisa hanya butiran kegelisahan. Usiaku kepala tiga sekarang, dan aku  berterima kasih masih diberikan kesempatan hidup setidaknya aku tau bahwa aku masih menyaksikan drama kehidupan yang tetap berjalan. 

    Tidak menyangka bahwa akan ada masanya senyuman tulus menjadi terasa sulit jika harus selalu ada alasan kebahagiaan dibaliknya. Tidak menyangka bahwa senyuman juga dapat dipalsukan, dan tidak menyangka bahwa senyumanku tidak bersambut dengan alasan kebahagiaan tapi terkadang sebaliknya aku mulai tersenyum dengan hati yang pilu dan alasan yang lain. Kadang aku takut apakah respon dari tubuhku sudah mulai menggila tidak sesuai dengan tugasnya, senyuman indah itu berubah menjadi respon kepalsuan diri atas tindakan cepat yang aku pilih, bukan, bukan respon tubuhku yang salah, bukan juga pilihanku tapi inilah hidup, kehidupan sesungguhnya yang harus aku terima.

    Terkadang jawaban singkat berandai-andai selalu berputar di kepala, tidak menyalahkan pilihanku dan jalan hidupku, namun semakin dipikirkan semakin sesak rasanya di dada. Aku mulai menerima apapun yang akan melekat padaku dari penilaian orang lain itu bukan urusanku dan itu adalah pilihan mereka, jika parameter kebahagian itu seperti yang dikatakan setiap orang mungkin aku adalah antiheronya di sini bukan berarti aku pahlawan karena untuk menolong diri sendiri saja aku masih belum mampu dan itu tidak mengapa karena masih aku usahakan.

    Suamiku bilang aku orang yang sial karena selalu memiliki drama dalam hidupnya, awalnya aku termenung dan bertanya dalam benak, "apa benar yang dikatakan olehnya?" padahal aku selalu berusaha menerima apapun yang terjadi bukan berarti aku sudi dengan semua drama kehidupan yang ada, tapi aku tidak mau berlarut dalam suatu hal yang sebenarnya dapat aku hadapi meskipun penuh deraian air mata. Beruntungnya aku memiliki orang-orang yang selalu memberiku semangat dan nasihat yang membuat resah hatiku seperti terobati.

    Semuanya terasa dipersimpangan, aku tidak bisa memutuskan antara hitam atau putih karena spetrum warna itu sangat beragam diantara keduanya yang paling memungkinkan itu abu-abu, aku juga tidak tau antara ingin dan tidak ingin karena keduanya bisa muncul secara bergantian, semua terasa membingungkan seperti kata Aldi Taher, entah bahagia ataupun sedih karena gembira juga bersama duka. Tapi satu yang selalu aku yakini bersama kesulitan pasti ada kemudahan.

    Aku tidak ingin menujukan ekpresi diri yang berlebihan dan tidak ingin menjadi pusat perhatian, ada atau tidak ada orang lain menganggap kehadiranku aku terima. Aku sudah tidak khawatir lagi dengan lukaku yang sudah aku anggap sembuh meskipun kadang tergores dan aku tidak dapat menghindarinya, aku sudah memafkan semua orang yang pernah membuatku terganggu dan akupun berharap begitu, dimaafkan oleh semua orang yang merasa terganggu olehku, aku tidak peduli dengan penilaian orang lain terhadapku karena akupun tidak ingin menilai orang lain hanya dari sudut pandang yang aku miliki tanpa tau apa yang sudah mereka hadapi rasanya tidak adil, aku tidak butuh disukai oleh semua orang karena aku juga tidak bisa menyukai semua orang, aku hanya perlu bersyukur dengan apa yang aku miliki dan tidak aku miliki atau belum aku miliki sekarang, semua itu baik untukku tetapi aku saja yang tidak menyadarinya. 

    Dari paragraf terakhir ini aku hanya ingin sampaikan bahwa plot twist kehidupan itu benar adanya, dan aku harus menerima bahwa biaya pemeliharaan untuk membuang sampah di rumah selebritis itu jauh lebih besar dari gaji yang aku terima untuk satu bulan, ironis memang tapi tidak mengapa itulah hidup yang aku tau di usia tiga puluh, aku sangat bersyukur karena aku bukanlah selebritis yang perlu repot-repot mengeluarkan biaya yang besar untuk membuang sampah.  Kita masih berjuang dijalan masing-masing semoga kita dapat menjalani hidup di dunia tipu-tipu ini.